Mutualisme Sekolah dengan Ikatan Alumni

SALAH satu yang istilah yang sekarang marak dalam dunia persekolahan adalah stakeholder—pemangku pendidikan. Menurut artinya, istilah ini mengacu pada pihak- pihak yang baik langsung maupun tidak terkait dengan proses pendidikan. Salah satu pemangku pendidikan yang di beberapa sekolah sedang mulai digarap dengan serius adalah ikatan alumni. Untuk sejumlah sekolah, khususnya perguruan tinggi, ikatan alumni bukanlah sesuatu yang baru. Keberadaannya telah mewarnai dan menorehkan jejak dalam penyelenggaraan sekolah. Bagi sekolah-sekolah tersebut, ikatan alumni menjadi bagian organik dalam pengelolaan pendidikan dan memperoleh perhatian yang serius. Sejauh mana kepentingan pembentukan ikatan alumni dan mengapa sekolah perlu memfasilitasi alumninya, berikut ini beberapa alasannya.
Pertama, alumni sebagai jejak sejarah. Kita sepakat sekolah memberikan kontribusi dalam pembentukan cara pandang, cara hidup, dan karakter peserta didik. Cara hidup inilah yang lantas dianut para alumni ketika terjun ke masyarakat. Dalam kurun waktu enam tahun di sekolah dasar, serta tiga tahun di SMP ataupun SMA, nilai-nilai yang dianut suatu sekolah terpolakan dalam diri seorang alumni. Maka, kita boleh mengatakan, sejarah suatu sekolah muncul salah satunya dalam diri alumni. Untuk melihat tata nilai yang dianut suatu sekolah, bisa dilihat dari profil alumni.
Kedua, alumni sebagai market potensial peserta didik. Disadari atau tidak, kontribusi alumni atas peserta didik cukup besar dalam mempertahankan kelangsungan sekolah. Untuk sekolah-sekolah swasta, alumni seringkali menyekolahkan anak-anak mereka ke almamaternya. Hal ini bisa dipahami sehubungan dengan ikatan emosional dan pengalaman alumni yang cukup menentukan.
Ketiga, pasca-pengesahan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan, semakin disadari bahwa sekolah tidak bisa bergerak sendiri dalam hal penyelenggaraan sekolah. Bagi sekolah-sekolah swasta yang mengandalkan kontribusi siswa sebagai masukan terbesar bagi pengelolaan sekolah, kondisi ekonomi yang tidak menentu menyebabkan tidak menentu pula prospek sekolah. Beberapa sekolah yang tidak sanggup lagi membiayai operasional sekolah terpaksa ditutup alias bangkrut.
Dalam situasi yang tidak menentu ini, tentu peran pemangku pendidikan dengan para alumni sebagai salah satunya dapat menyelamatkan proses penyelenggaraan sekolah. Maka di beberapa sekolah program beasiswa yang dikelola oleh para alumni menjadi salah satu upaya meringankan beban penyelenggaraan pendidikan. Selain kontribusi pendanaan di beberapa sekolah alumni berperan penting sebagai sumber daya manusia baik sebagai tenaga pengajar maupun nara sumber. Kelompok-kelompok ekstra kulikuler, contohnya, dapat menjadi bidang garapan para alumni sebagai bentuk dedikasi dan dukungan alumni atas almamaternya.
Mempertimbangkan peran penting alumni dalam pengembangan almamater maka jadi kepentingan sekolah untuk mengelola dan memfasilitasi para alumni untuk setia dan rindu almamaternya. Salah satu bentuk pengelolaan ini adalah dengan pengelolaan ikatan alumni. Pembentukan ikatan alumni ini dapat dianalogikan praktik usaha jual-beli yang mengenal istilah after sales service.
Jika dunia usaha mengenal layanan purnajual dalam rangka memberikan pelayanan yang optimal pada pembeli, sehingga ikatan pembeli dan penjual terpelihara, di dunia pendidikan pun prinsip purnajual jadi dasar pembentukan ikatan alumni.
Konsep purnajual sebagai analogi ikatan alumni dapat diartikan sekolah dalam kepentingannya mempertahankan kelangsungan pelayanan pendidikan perlu juga mengupayakan pelayanan purna pendidikan kepada para alumninya. Bentuk-bentuk pelayanan inilah yang akan merekatkan alumni dan almamater. Tidak sebaliknya, sekolah yang terkesan sebagai parasit “memoroti” alumni tanpa memberikan pelayanan apa pun.
Bagi para alumni ikatan alumni yang dikelola sekolah memberikan berbagai macam kemudahan dan keuntungan. Keuntungan pertama, ikatan alumni menjadi jembatan silaturahim antaralumni. Data base alumni yang diperbaharui dapat membantu para alumni untuk kembali menyusuri silaturahim antaranggotanya.
Kedua, jembatan silaturahim yang terbina antaralumni melalui ikatan alumni menjembatani relasi di luar almamater dengan relasi usaha sebagai contohnya. Dengan ikatan alumni berbagai kerja sama usaha dan jasa dapat terjalin sehingga masing-masing dapat saling mendukung kegiatan usaha.
Ketiga, di tengah gencarnya isu tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility), keberadaan ikatan alumni dapat menjadi wadah bagi alumni yang memiliki kewajiban CSR. Para alumni yang sukses di berbagai bidang dan terpanggil untuk berbagi tanggung jawab dalam program pemberdayaan masyarakat dapat menjadi penopang penyelenggaraan pendidikan baik pendanaan maupun pembelajaran.
Dari segi pendanaan tentu para alumni ini dapat mendukung siswa-siswa yang kurang beruntung secara finansial atau memperlengkapi sarana pendidikan almamaternya. Di bidang pembelajaran, para alumni ini dapat memfasilitasi para siswa dengan penyediaan tempat-tempat pembelajaran kontekstual seperti magang sehingga mereka mendapat pengetahuan dan keterampilan praktis yang tak didapat di sekolah.
Program magang itu, bagi alumni, dapat dijadikan program rekrutmen calon karyawan yang berpotensi. Bentuk pembelajaran lainnya antara lain alumni dapat menjadi narasumber untuk pembelajaran profesi. Berbagai peluang yang bisa diambil oleh alumni dalam rangka pertanggungjawaban sosial korporasi pada akhirnya menjadi hubungan mutualisme antara alumni dan almamater yang dijembatani ikatan alumni. share kliping cyber media
-->
0 komentar: